Jalan dan Jembatan

Kadang suka bingung kalau mau mulai nulis teh, apa yang harus lebih dulu dituliskan sedangkan di kepala banyak pisan yang pengen dikeluarkan. Isinya seolah membludak ingin dituangkan, merasa akan terlambat jika tidak dituliskan sekarang sedangkan aktivitasku bukan hanya tentang menulis 😅

But saya harus segera menuliskan tentang ini juga agar tidak keburu lupa. 

Tebal dinding itu standarnya 15 cm, lebar jalan gank maksimal 7,2 meter dengan berat beban maksimal 8 ton. Oh well, saya mulai lupa apalagi tadi yang diceritakan Umar sebelum berangkat ke sekolah teh yang pasti jalan gank itu pasti dibikin secukupnya alias seminimal mungkin 🤭 
See, "mana ada yang bikin gank sebesar itu, Mi. Cuma memang itu standar maksimalnya, kita biasanya ambil yang paling minimal, nah karena minimalnya nggak ada batasnya jadi ya sebenarnya seikhlasnya yang mau buka jalan gank juga."

Why seikhlasnya? Ya kan biasanya kalau bikin jalan gank mah suka hasil rembugan keikhlasan yang punya lahan buat bikin jalan. Eh itumah di kampung sih, di kampung kami biasanya kalau mau bikin gank, lebar dan panjangnya tergantung pada keikhlasan mereka yang lahannya mau dilewati dan dijadikan jalan gank. Nggak ada acara pembebasan lahan segala, intinya wakaf tak tertulis yang ditujukan untuk kemaslahatan para pengguna jalan. Nanti di sertifikat tanah yang sudah diwakafkan (meski tidak tertulis itu) sudah tidak ada dalam kepemilikan tanah muwakkif. 

Hari ini masih jadwal UTS eh PTS nya, kalau dulu PTS kepanjangan dari Perguruan Tinggi Swasta sekarangmah sudah nambah jadi penilaian tengah semester. Jadwal PTS nya tentang jalan dan jembatan, Umar tadi cerita banyak pengetahuannya tentang jalan dan jembatan selain tentang ketebalan dinding yang saya tuliskan diatas. 

Jalan yang menghubungkan ke perumahan seperti gank menuju rumah kami disebut jalan area sekunder, ada juga area primer itumah jalan penghubung apa yaa, lupa lagi. 

Ada jalan arteri, primer dan sekunder. Duh banyak banget namanya ya dik, tapi ummi senang kalau adik lagi cerita teh. Kayak bukan nyeritain pelajaran yang sedang adik pelajari tapi sesuatu yang menarik yang membuat ummi juga asyik menyimaknya meski ummi masih mudah lupa tapi ummi senang setiap kali adik memulai obrolan. 

"Sarapan dulu, dik!" Ummi mengingatkanmu untuk sarapan dulu. 

"Nanti aja mi, pulang sekolah. Khawatir kesiangan." 

"No, ummi sudah masak jadi adik harus sarapan dulu! Lagian nggak ada yang namanya sarapan jam 1 siang, ummi tahu bagaimana rasanya belajar tanpa sarapan. Bagaimana rasanya telat makan, itu nggak enak. Ayo sarapan dulu!"
Kebiasaan ibu-ibu kalau ngomong teh bisa panjang kali lebar kali tinggi. Disatu sisi ummi ingin mengajarkanmu untuk belajar menghargai orang lain (saat ini Ummi yang memasak 🤭) dan tidak melewatkan sarapan apalagi sebagai orang sunda yang baik, belum dikatakan sudah makan or sarapan tanpa makan or sarapan nasi 😁 Alhamdulillah akhirnya adik mau sarapan dulu, dengan nasi, tempe goreng dan tumis tongkol. 
Seperti biasa, adik selalu terlihat berbinar saat diantar sampai teras. Ummi memeluk dan mengucapkan terima kasih serta doa yang biasa terpanjat tepat ditelinga dan ubun-ubun adik, "Hatur nuhun pisan nya dik Umar."

Hatur nuhun dik Umar, sudah menjadi putra Ummi anu shalih insyaAllah. 

Balananjeur, Jum'at, 8 Oktober 2021

Note: Catatan ini terdiri dari
500 kata
3313 karakter
2793 karakter tanpa spasi
330 kata unik
41 kalimat
15 paragraf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Learning Camp (Day 1)